Articles

love in the train,,,,

In Uncategorized on Mei 23, 2011 by Blog Ryna


Pertemuan ku dengannya hanya sebatas pertemanan biasa. Makin hari, seringnya aku bertemu dengan dia, tumbuh lha rasa yang entah apa namanya,,,,, orang2 menyebut itu Sayang & Cinta. 🙂

Setiap sore aku pulang kerja bareng dia, naik gerbong kereta yang sama dan duduk bersebelahan.

Sesaat sebelum turun dari kereta yang penuh dan sesak, aku memegang tangannya untuk pertama kalinya. Erat sekali pegangan tangannya saat itu. 🙂

Aku yang hanya seorang perempuan biasa yang kegiatan sehari2nya hanya duduk manis di depan monitor pc, melayani konsumen dengan senyum manis yang merekah (walaupun kadang sedang bad mood :(), yang sedang belajar menulis dengan baik dan benar, yang sedang mengolah kata2 menjadi untaian cerita, yang menjadi keseharian ku untuk membuka kantor setiap pagi dan sore saat kantor tutup.

Dia hanyalah seorang pegawai perusahan biasa dengan gaji yang sudah menjadi standar umum. Seseorang yang berprinsip,”inilah aku, apa adanya”. Dia yang berjanji memberikan yang terbaik untuk orang2 disekelilingnya(khususnya seseorang yang sangat dia kasihi).

Kami bertemu di stasiun, disaat pagi dan sore hari. Saat kita berdua melepas penat atas segala kegiatan dan kesibukan kerja masing2 sambil menunggu si ular besi yang akan membawa kita berdua menuju ke peraduan. Sebelum si ular besi datang, kita berdua punya segerombolan bocah2;)) yang biasa ngebuat rame tempat nongkrong. (sorry bukan bocah2, tapi usia remaja beranjak dewasa yang childdiest #piss akh ;)))

Si ular besi pun datang, setelah semua penumpang naik, aku dan dia mencari tempat duduk yang nyaman yang bisa untuk melepaskan lelah dan dekat dengan pintu keluar. Setelah melewati beberapa stasiun, kami berdua tiba di stasiun tujuan. Turun dari si ular besi yang penuh dan sesak apalagi di jam pulang kerja. Kami pun berjalan melalui gang yang sudah tidak aneh lagi untuk dilewati setiap harinya oleh kita berdua. Sampai di gang rumahku, sebelum berpisah, dia mencium keningku, lembut sekali, aku pun mencium punggung tangannya. Dan kami pun berpisah dikala sang rembulan datang untuk menyinari malam ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: